Dibawah payung, dibarat kota.


Hari itu
Seharusnya tidak ada debaran
Nyatanya pertahananku lebih kuat dari dugaan
aku sangsi akan kisah baru
Entah kepada siapapun itu


Namun kau berdiri disana

Melambaikan tangan

Berjalan denganku ke arah mobilmu

Terlihat sedikit khawatir karena terlambat

Dengan senyum simpul yang kau buat


Seperti biasa,

Kau menyiapkan makanan disisi penumpang

Sesuatu yang manis

Seperti coklat yang kau berikan 2 hari lalu


Kau bilang hari ini akan mengunjungi beberapa tempat tersembunyi di barat

Aku mengangguk tanda setuju

Dan kau tersenyum lebar

Seakan tak sabar 


Dua orang dengan tinggi yang tak biasa

Berjalan menyusuri jalan basah disudut kota

dibawah payung corak cerah yang tak henti kita tertawakan

Mata-mata tertuju

Seperti melihat dua raksasa bahagia

Aku tak peduli

Karena rasa hangat itu begitu menyelimuti

Di setiap langkah alas kaki coklat

Kau dan aku terhanyut bahagia dalam jejak


Di antara bangunan kecil

Kau menunjukan tempat ramen kesukaanku

Dengan pernak pernik natal

Kita duduk berhadapan

Aku menyadari

Ada sarafku yang kau bekukan

Ketika aku begitu menikmati hidangan

Senyummu tak henti terpancar

Menatapku begitu dalam

Dan saat mata kita bertemu

Kau mengalihkan pandangan

Begitu sering 

Hingga pipiku memerah begitu saja


Lelah bercengkrama, 

Kamu mengajaku ke kedai kopi

Yang dua bulan lalu kau kotori dindingnya

Karena kopimu yang tumpah

Lalu kau menanyakan tentang cincin dijariku

Yang aku sematkan ke anak jarimu

Kita tertawa mengenai betapa kecilnyanya

tanganku jika disandingkan denganmu


Kita berjalan lagi, 

Menuju tempat di balik persembunyian kota

Es krim dan capucino menemani meja

Aku memintamu mencoba eskrim di wadahku

Yang akhirnya kau jahili dengan mengambil wadahku seutuhnya

Aku mengamuk layaknya anak kecil

Kau sambut dengan tawa lebar yang usil


Selepas pulang, kau mengajaku berkendara

Menanyakan bagaimana tentang masa laluku

Aku tertegun

Rasa khawatir berkecamuk

Namun kau mengulurkan kelingkingmu

Dan berjanji akan bertukar kisah

Akupun setuju


Gerimis didalam mobil

Aku menarik kesimpulan

Kita adalah 2 insan dengan masa lalu riuh

Mencoba sembuh

Walau aku tak tahu 

Apakah ini hanya pelabuhan sementaramu

Dan tujuan akhirmu tetap gadis itu

Aku menahan pikiran yang berisik

Bagaimana ketakutanku begitu licik

Menari begitu hebat di kepala

Yang ku balas dengan senyum di setiap cerita

Namun pada akhirnya

Kita setuju

Untuk menutup setiap lembaran itu

Dengan senyum hangat di akhir ceritamu



“Izinkan aku memperkenalkan ulang diriku.”

Kalimat yang cukup membuatku tergelitik

Kau bergegas mengeluarkan ponselmu

Menceritakan ulang tentang dirimu

Dengan setiap bukti

Yang sebenarnya tak perlu

Tapi tetap kau lakoni

Kau takut ketakutaku pada masa lalu

Melekat pada dirimu


Bagaimana malam itu begitu indah

Bersama rintik gerimis di malam natal

Kau merengek manja

Mengatakan kesal dengan hari yang cepat berlalu

Padahal kita sudah seharian mengelilingi kota

Kau mencari alasan

Mengulur waktu

Membawaku berjalan ke jalan yg lebih jauh

Tapi percayalah akupun sama

Jika waktu dapat ku hentikan

Akan ku lakukan


Perpisahan adalah sesuatu yang pasti

Kau membuat pipiku memerah lagi

Dengan lelucon tentang kekhawatiranku terhadap pendapat ibumu

Yang kau tebak dan membuat aku mati kutu


Bahagia sesederhana itu bukan, 


Saat akhirnya dijalan pulang

Kau keluar dari mobilmu

Membawakan payung untukku

Membuka pintu

Dan kita berjalan kerumahku

Dibawah rintik hujan

Aku baru tahu

Bahwa berjalan di bawah payung dibarat kota

Bisa semenyenangkan ini

Ya.. payung yang kau genggam

Namun hatiku yang hangat




Comments