Musim Abu - Abu



Udara saat itu menyesakan dada

Setiap hirupan dipenuhi ketakutan

Masih ku ingat jelas

Ruangan penuh dosa pendusta

Dan tangan mungilku gemetar setiap detiknya


Tawa palsuku lebih lebar 

Ku kenakan pakaian terbaik

Riasan wajah menutup mataku yang sendu

Aku tak ingin sedihku tervalidasi

Oleh dua insan yang menikamku, tapi tak membuatku mati


Aku hanya ingin bernafas tanpa rasa sakit

Melewati musim kemarau gila

Yang telah merenggut semuanya dariku

Termasuk rasa layak dicintai

Dan harga diri


Aku kehilangan arah

Kau tak akan tahu rasanya

Sebagus apapun frasaku tentang luka

Sebagus apapun diksi patah hati yang ku cipta


Dan setelahnya aku mengenalmu, 

Sore itu

Di musim abu - abu.


Aku mudah membaca kesamaan

Seperti sisi rapuh kita yang bersentuhan

Rasa takut yang besar untuk ditinggalkan

Dan kehati-hatian mengulang kesalahan


Bahkan saat mata kita pertama bertemu

Dimalam aku memberanikan diri mencari pelarian

Disaat itu aku telah menyadari

Akupun adalah pelampiasan


Di musim abu - abu

Dua orang dengan masa lalu pilu

Bercengkrama layaknya lembaran baru

Bertukar cerita tentang masa lalu

Namun menutup yang paling silu


Di musim abu - abu

Bahagia tercipta bersama dilema

Dua kepala menganalisa “bagaimana jika?”

Hatimu kadang masih mengingat luka

Dan hatinya, memiliki beberapa nama 


Di musim abu - abu

Riuh kepalamu berkali meminta berhenti

Namun kau tak sanggup disapa sepi

Padahal kau benci menjadi opsi

Lalu apa yang kau cari?


Di musim abu - abu

Dia menyadari kau hadir disaat yang tepat

Tapi hatinya tak bisa terpikat

Kenanganya begitu pekat

Namun takut kehilangan kau yang menurutnya hebat


Di akhir musim abu - abu

Kau mengijinkannya kembali mengemudi

Memegang kendali

Tak apa jika dia ingin berhenti

Karena kau menyadari sedari dini

Ini bukan tentang kau adalah destinasi 

Tapi pencarian musim yang terulang kembali


Comments